HANYA ANGKA NOL

Seberapa kamu merasakan bahwa hidup ini sangatlah bermakna??? Dan seberapa kamu merasakan bahwa hidup ini sangatlah sulit ???

Pertanyaan diatas yang mendasari bahwa apa sebetulnya hidup itu. Kadang pernah terbersit dalam lintas pikiran bahwa untuk apa sebenarnya Tuhan menciptakan kita di dunia ???

Dihidupkan, lalu dimatikan dan lalu dihidupkan kembali untuk selama2nya dalam negeri keabadian.

Terkadang jika memang itu adalah maunya Tuhan untuk menciptakan manusia di bumi, lalu dihidupkan dengan diberikan berbagai kenikmatan dunia, kesedihan rasa, dan tujuan syurga atau neraka. Lalu kenapa masih dipikirkan akan eksistensitas manusia di bumi. Tuhan sudah menganugerahkan segala-galanya untuk manusia. Kebutuhan raganya, kebutuhan jiwanya serta rasa yang menyertai kualitas hidup manusia. Tuhan sudah menganugerahkan segala-galanya untuk manusia. Manusia dimanjakan Tuhan, diberi, diurus dan dilindungi olehNya. Lantas mengapa masih punya rasa sedih, khawatir dan putus asa memikirkan esok akan bagaimana dan tujuan kita mau kemana.

Albert Camus mengatakan bahwa hidup itu adalah sebuah absurdisme. Sebuah ketidakbermaknaan  yang dialami banyak manusia. Dimana setiap hari manusia melakukan sebuah rutinitas aktivitas yang intinya untuk mencapai apa, terkadang manusia pun tidak tau ia melakukan ini dan itu tujuannya untuk apa. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, yang setiap harinya manusia merasakan hal yang relatif sama. Sekarang bahagia, besok sedih, besok nya lagi bahagia lagi dan begitu seterusnya.

Manusia setiap hari bekerja, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mengumpulkan harta benda untuk menjadi kepemilikannya. Padahal ia tidak tau, harta benda itu nantinya untuk apa. Sistem hidup manusia yang terus bergulir begitu-begitu saja sehingga terkadang menyebabkan manusia berpikir apa maksa dibalik hidup ini. Munculah sebuah esensi ketidak bermaknaan yang dialami manusia. Inilah yang disebut Albert camus sebagai absurdisme.

Sama halnya dengan apa yang saya rasakan saat ini. Dulu saya ingin sekali menjadi seorang kaya raya, memiliki harta berlimpah, memiliki keluarga yang sejahtera, memiliki anak-nak yang cerdas. Akan tetapi setelah dirasa dan dipikirkan secara mendalam, keinginan-keinginan itu sebetulnya untuk apa???. Terjadi perang dalam diri ini memikirkan itu semua. Apa sebetulnya yang saya inginkan yang betul-betul hakiki??? jawabannya adalah tidak tau. Saya mengalami absudrism dalam hidup ini.

Apakah mungkin ada pembaca disini yang pernah merasakan hal yang sama ???

Jadi sebetulnya hidup itu adalah sebuah angka nol saja.

Apapun yang dicita-citakan, yang diimpikan manusia, sebetulnya untuk apa ? manusia terbatas oleh ruang dan waktu yang hanya bisa merasakan bahagia senang itu dengan acuan standar dirinya bukan standar orang lain atau kebanyakan. Kebahagiaan anda, belum tentu merupakan kebahagiaan saya.

Dan pertanyaannya, setelah bahagia lalu anda mau apa ??? pernahkan dipikirkan tindakan-tindakan selanjutnya setelah anda mencapai bahagia, lalu anda mau apa???

Kenyataanya adalah sebuah angka nol saja.

Sehingga yang patut disadari adalah bukan hasil yang menjadi tujuan manusia. Akan tetapi proses yang dijalani lah yang sebetulnya disanalah merupakan makna hidup.

Pernah dengar dongengnya Sisypus dalam Mitologi Yunani ???

Ia adalah sorang raja yang dikutuk oleh dewa untuk menggelindingkan batu ke puncak bukit selama hidupnya. Dia terus dengan semangat mendorong batu tersebut ke atas bukit dengan sekuat tenaga. Dan setelah batu itu terdorong ke atas puncak bukit, batu itu menggelinding kembali ke bawah. Lalu Sisypus mendorong lagi ketas, lalu jatuh lagi, dorong lagi jatuh lagi dan seterusnya. Akan tetapi Sisypus tidak sedih dan kecewa ketika batunya menggelinding ke bawah lagi, ia malah dengan senang hati mendorongnya sampai ke puncak lagi.

Sumber :
https://www.kompasiana.com/yogaps/551149cf8133118a42bc619c/sisyphus?page=all

Pertanyaannya, kenapa Sisypus tidak sedih, kecewa atau bahkan mengeluh dengan hukumannya ???

Ternyata yang Sisypus jadikan tujuan adalah bukan hasilnya batu itu berada di puncak, tapi tujuannya adalah ia merasa gembira dengan proses mendorong batunya. Ia sangat suka cita melakukan pekerjaannya mendorong batu. Itulah makna hidup yang dirasakan oleh Sisypus. Bukan hasilnya tapi proses ketika menjalaninya.

Begitu pun dengan hidup kita, ketika tujuan kita adalah ending atau akhir. Selama nya kita tidak akan mersakan hidup. Tetapi jika kita menyelami proses hidup, itulah hidup yang sebenar-benarnya.

Hidup itu absurd. Tidak jelas… maka dari itu, untuk mengambil makna dari ketidakjelasan hidup yang kita rasakan, nikmatilah prosesnya sedalam mungkin, sebahagia mungkin. Lakukan proses hidup dengan suka cita. Agar kita dapat menikmati hidup senikmat-nikmatnya.

Jangan pernah menunggu esok untuk mendapatkan Syurga. Buatkan Syurgamu sekarang juga. Jadikanlah hidupmu seperti syurga. Agar kita selalu bahagia…

aS WelL a SpeNT DaY bRingS HAPPY SLEEP, So aLiFe WelL SpeNT BringS HAPPY DEATH

Sebagai mana jika hari yang indah akan membuat tidur yang bahagia, maka hidup yang indah akan membuat kematian yang bahagia…

dewi triana bandung

Guru, dosen, blogger, penulis lepas, dan pemerhati pendidikan

*sedang menempuh program Doctoral


*sedang menempuh program Doctoral

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *