TO BE WISE MAN (PART 1)

Menjadi pribadi yang pandai berinstrospkesi

Dalam hidup terkadang kita menemukan suatu masa dimana kita mendapati sebuah keadaan seakan kita stuck pada sebuah moment untuk merenungi apa yang telah dilalui, lalu menertawakannya sendiri atas apa yang telah dilakukan. hal tersebut merupakan sebuah kewajaran manusiawi karena dalam perjalanan hidup kita terus menemukan banyak pelajaran dari waktu ke waktu tentang hal-hal yang bisa saja itu adalah merupakan hal yang baru atau juga hal yang lama tetapi baru ditemukan dalam hidupmu dan menjadikan sebuah rumus hidup baru untuk bisa menjadi hidup yang lebih baik.

Dalam perjalanan hidup dari waktu ke waktu terkadang kita dipertemukan dengan hal-hal atau orang-orang yang ternyata jika dipikirkan dengan secara lebih mendalam, itu adalah merupakan sebuah pelajaran penting yang dapat diambil sebagai hikmah. akan tetapi ada manusia yang bisa menyadarinya ataupun tidak.

Sebagai contoh, terkadang kita dipasangakn dengan seseorang yang menurut pribadimu dia sangat bertentangan dengan pribadimu sendiri. misal ada seorang suami yang memiliki istri yang menurut suami tersebut, istrinya sangatlah tidak menyenangkan, egois, menuntut untuk selalu dituruti semua keinginannya, secara verbal bahasa lisannya tidak terjaga dan perangai-perangai buruk lainnya. sehingga sang suami merasa sangat tidak nyaman dan mengeluhkan itu semua. jika kita sadari sebetulnya mengapa kita bisa dipertemukan dengan pasangan yang seperti tak membuat nyaman bagimu ?

oke, kita akan mulai mengupas dan mengambil pelajaran berharga dari kasus diatas.

Ketika kita mendapati hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita, hal pertama yang harus kita tanamkan dalam diri kita adalah bertanya kepada diri kita sendiri sebelum bertanya kepada orang lain. Tanyakan kepada dirimu “Mengapa saya dipertemukan dengan pasangan yang seperti ini?” Lalu tanyakan juga kepada dirimu “Bagaimana diri saya sebenarnya?”. “Apa yang sudah saya perbuat sehingga pasangan saya menjadi seperti ini?”

Mungkin pertanyaan-pertanyaan diatas dapat membantu anda untuk tidak terlebih dahulu menyalahkan orang lain dan menjudge orang lain “Jelek”. Karena bisa jadi apa yang pasangan kita perbuat adalah merupakan cerminan perilaku diri kita sendiri. Bisa jadi juga perilaku yang ditunjukan pasangan kita adalah caranya dia membalas dendam terhadap apa yang sudah kita lakukan. Atau bisa juga hal itu meruapkan ujian bagi kita.

Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Dan untuk bisa menjawab itu semua bukanlah orang lain, tetapi diri kita sendiri. Jadi hal yang pertama yang harus dilakukan adalah introspeksi diri kita sendiri. Cara yang paling memungkinkan untuk dilakukan adalah dengan mencari tahu apa kekurangan kita, sebelah mana letak kesalahan kita lalu memperbaikinya.

Karena jika menuntut orang lain atau pasangan kita berubah, itu tidaklah mungkin, itu diluar ranah kita. Karena masing-masing memiliki standar kebaikan perilaku yang terbaik menurut versi dirinya masing-masing. Jadi ketika ingin mengubah orang lain, ya kita harus mau untuk merubah diri kita terlebih dahulu.

Disini saya akan menguraikan cara sederhana untuk bagaimana bisa kita berinstropeksi kepada diri kita sendiri, lalu berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dengan orang lain

1. Sadarilah titik lemah diri kita sendiri

Dengan mengetahui titik kelemahan pada diri kita sendiri, kita akan menerima segala kekurangan yang ada pada diri sendiri sebelum memulai memperbaiki segalanya. Kita akan mulai bisa mengetahui serta mawas diri terhadap tindak perbuatan kita sendiri. Kita akan mulai bisa menjaga hati yang kotor, lisan yang tidak baik juga perbuatan yang dirasa bisa menyakiti orang lain. Kenalilah dirimu sendiri, kenalilah titik lemahmu sendiri, dan jagalah agar titik lemahmu untuk tidak merugikan orang lain. Karena sejatinya semelum kita bisa bermanfaat untuk orang lain, minimal kita tidak merugikan orang lain.

Memang hal ini agak susah dilakukan yaaa… akan tetapi dengan berlaih terus menerus pada diri sendiri, maka berdamai dengan diri sendiri akan menjadi mudah

2. Mulai terbuka terhadap saran dan kritik dari orang lain yang membangun

Manusia terkadang memiliki ego untuk tidak bisa mendengarkan kejelekan tentang dirinya. Hal itu mungkin manusiawi karena meanusia dilengkapi dengan segumpal hati dan emosi yang menyertainya. Akan tetapi untuk menjadi “to be Wise Man” hal ini sangatlah menghalanginya. Bagaimana bisa belajar untuk menjadi lebih baik, jika kita tidak mau mendengarkan penilaian orang lain terhadap diri kita. Tidak mau mendengarkan saran dan kiritikan untuk membangun kebaikan untuk diri kita.

Maka dari itu, yuuk mulai berlatih untuk siapkan mental mendengarkan segala penilaian orang lain tentang diri kita, karena yang berhak menilai kita itu seperti apa adalah orang lain. Ikuti saran dan kritik yang membangun dengan bijaksana.

3. Milikilah keinginan kuat untuk menjadi lebih baik

Jika kita ingin pribadi dan karakter kita lebih baik, terlebih dahulu milikilah tekad yang kuat untuk menjadi lebih baik. Karena ini merupakan modal awal sebagai semangat dan motivasi untuk memrubah diri kita sendiri. Berubah menjadi seseorang yang lebih baik akan memberikan dorongan bagi kita untuk bisa melihat dengan lebih jelas letak kekurangan kita yang sebenarnya. Selain itu, tanpa adanya keinginan dari dalam diri kita, bagaimana kita bisa melakukan proses introspeksi itu sendiri?

4. Beranilah untuk mengakui kesalahan diri kita sendiri, jika memang kita salah

Berani mengakui kesalahan diri kita sendiri adalah sebuah hal yang bisa dilakukan oleh seseorang yang berjiwa besar. Apalagi mendindaklanjutinya dengan meminta maaf.

Melakukan penilaian terhadap diri sendiri akan mustahil berhasil jika kita selalu merasa benar. Penolakan untuk mengakui kesalahan bisa jadi sebab mengapa selama ini kita sulit sekali berintrospeksi. Makanya, jika memang bersalah, jangan segan untuk meminta maaf dan mengakuinya. 

Mulailah belajar untuk beani mengakui kesalahan dan meminta maaf sebelum orang lain melakukannya.

5. Jika mendapati orang lain melakukan kesalahan, coba tanyakan pada dirimu apakah kita sendiri melakukannya juga?

Tak ada manusia yang sempurna di dunia ini, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, entah itu besar atau kecil. Sehingga pada saat melihat pasangan atau orang lain melakukan kesalahan, jangan terburu-buru menjudge bahwa dia adalah “orang tidak baik” atau “orang jahat”. Karena sebelum melontarkan itu tanyakan kepada diri kita sendiri apakah diri kita sudah baik? Apakah diri kita pernah melakukan kesalahan yang sama?

Dengan menyadari ini tentunya akan sangat membantu diri kita untuk menjadi lebih baik, memulai mencari kesalahan-kesalahan diri kita secara detail. Apa yang menjadi kekurangan-kekurangan kita, sebelah mana letak kesalahan-kesalahan kita.

Dengan mengetahui itu semua, maka proses perbaikan diri akan mudah dilakukan. Lakukanlah perbaikan diri dari hal-hal yang kecil untuk perubahan besar dalam hidupmu.

dewi triana bandung
Guru, dosen, blogger, penulis lepas, dan pemerhati pendidikan
*sedang menempuh program Doctoral

0 comments on “TO BE WISE MAN (PART 1)Add yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *