Perawan Tanpa Mahkota

Dia dihujani dengan tangkai mawar berujung tajam
Dia dihujani serpihan gelas kaca yang remuk bak menghantam
Dia memegang luka jantung hati yang dibawa pergi
Dia menangis tanpa air mata yang ditahan hati

Jiwa yang tak pernah disentuh sembarang rasa
Jiwa yang tak pernah disentil luka
Namun kini ia harus merasa
Karena saatnya baginya telah tiba

Terduduk dalam pangku tanpa asa
Terdiam diatas serpihan kaca hati yang menyayat
Tak pantas untuknya meratap masa
Karena ia tau, pada akhirnya ini adalah kodrat

Mawar menyelinap berwarna hitam
Memudar wajah sang perawan
Mahkotanya hilang bak tak terpendam
Memulai masa tanpa asa tanpa harapan

Hanya secuil buih permata yang menatap
Intan berlian yang menduduki hati
Tak pantas untuknya meratap
Karna sang perawan tidaklah mati

Walau mahkota telah dibawa pergi
Walau tahta tak lagi berarti
Tapi hati tetaplah hati
Sang perawan akan tetap berjalan sampai ke tepi

dewi triana bandung

Dewi Triana
Guru, dosen, blogger, penulis lepas, dan pemerhati pendidikan
*sedang menempuh program Doctoral